비 – bi

Yang aku tahu namanya Bi. Dua huruf itu saja yang disebutkan setiap kali ia memesan es kopinya, yang kemudian baru kutahu kalau namanya berarti hujan dalam bahasa korea. Tepat seperti hari ini, hujan mulai menghampiri lagi setelah hampir setahun ia bermusuhan dengan kota kami. Matahari sejak pagi sudah nampak malu-malu, awan bergelayut mendung menutupi seolah ingin merumpi. Hei lihat, hujan sudah berbaikan dengan kota ini.
“Satu es kopi. Take away.” katanya seraya menyerahkan kartu anggota coffe shop tempatku bekerja. 

“Satu es kopi atas nama Bi. Take away.” aku memasukkan order-nya ke mesin kasir, sambil mencoba mencuri pandang pada dua buah lesung yang menghias pipinya. “Silakan.” aku menyerahkan struk juga beeper, seraya tersenyum.
Sambil meracik kopi untuknya, aku berharap hujan turun lebih lama agar ia terperangkap di sini saja. Namun tampaknya kali ini ia terburu-buru, atau sudah ada yang menunggu? Aku mengaktifkan signal beeper, dan ia beranjak menghampiri.
“Silakan.”

“Terima kasih.” ia menyerahkan beeper-nya dan kemudian pergi. Yah mungkin lain kali bisa bersapa lagi. Aku masih memandangi punggungnya sebelum ia keluar, namun kemudian berbalik arah lagi.

“Ada yang kurang?” 

“Hmm. coba tersenyum sekali lagi, aku yakin kopi ini akan manis sekali.”

Surabaya, November 2015.

Menyambut hujan yang akhirnya turun.

Days Like Today – a fan fiction

Changmin memadang langit senja sambil menerawang seakan ingin mencari celah di antara awan yang berarak pulang. Sudah menjadi kebiasaannya untuk menghilang sejenak dari keriuhan rumah sakit dan menenangkan diri memandang langit di atas gedung. Kebiasaan yang biasanya ia lakukan berdua dengan Yeo Seol. Gadis itu akan sangat senang ketika musim semi datang, dan tertawa sampi pipinya bersemu kemerahan.

Kali ini Changmin mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku. Gambar di layarnya masih sama. Yeo Seol sedang tertawa. Foto itu diambil beberapa tahun lalu, saat mereka menghabiskan sore di musim semi sambil menikmati gugurnya daun di daerah Namsan. “Jadi setelah ini apa?” tanya gadis itu sambil mempermainkan daun di tangannya.
“Apa?” Changmin menghalau daun yang akan jatuh di kepala Yeo Seol.
Yeo Seol berhenti mendadak, “Coba pikirkan sekali lagi, ini kesempatan yang baik, Changmin-ssi.”
“Seol-ah, aku pun ingin bisa pergi. Tapi terlalu banyak yang harus aku urus di sini.” Berat rasanya mengucapkan hal itu sementara Yeo Seol mulai menitikkan air mata.

Angin sore mulai menerpa wajah Changmin membuatnya teringat kembali tentang Yeo Seol, menelisik ke hatinya dan memulai penyiksaan diri. Apa kabarnya? Sedang apa dan di mana? dan yang terpenting apakah Yeo Seol memikirkannya. Changmin memejamkan matanya, akan selalu ada beberapa hari seperti hari ini. Hari di mana angin musim gugur berhembus dan membawa ingatannya pada Yeo Seol. Ia rasa ia tidak akan bisa melupakannya, karena sekuat apapun ia mencoba, setiap kali angin berhembus selalu menerobos dinding pikirannya.

“Changmin Sunbae! Chief mencarimu!” suara teriakan Su Ha membuyarkan lamunannya.
“Ah iya..aku segera ke sana.”
Ting! Sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya.
“Nan Bogoshipda… – Han Yeo Seol”*

Kali ini angin membawa kabar baik untuknya.

*Aku ingin bertemu / Aku merindukanmu
**Inspired by Days Like Today – 2AM

Don’t Leave Me – a fan fiction

Suaranya terdengar sangat lelah. Kami sangat lelah. Setelah teriakan demi teriakan, kali ini suaranya melemah, sambil berbisik namun aku masih bisa mendengar suaranya, “Don’t leave me..”

Suara yang dulu selalu kurindukan untuk bisa kudengar, kali ini memintaku untuk tetap tinggal. Di sampingnya. Aku hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa, jelasnya aku pun sudah sangat lelah. Ia menatap mataku, aku bisa melihat bola matanya diselaputi lapisan kaca. Air mata siap tumpah kapan saja. Ingin rasanya menyentuh wajahnya, namun aku bertahan, kugenggam tangan ini lebih kuat.

De jávu.

Seakan otakku kembali memutar film yang sama. Tetap dengan aku dan dia sebagai pelakon utamanya. Beberapa bulan sebelumnya. Aku yang berteriak frustasi, teriakan dan air mata menguap di udara. Mataku dengan lapisan kaca yang sama. Posisinya sama hanya berkebalikan saya. Pun kata yang aku ucapkan sama. “Don’t leave me..”

Ia menggeleng, keputusannya sudah bulat.

Entah apa maksudnya otakku mengirimiku memori ini, mungkin untuk memudahkan hati membuat keputusan yang lebih berlogika. Mengingat hati ini gampang sekali goyah. Aku hanya menatapnya, mencoba untuk bertahan dengan keputusan yang sudah aku buat sebelumnya.

Sekali lagi aku mendengar suaranya, “Tteonajima..”

Dan detik itu pula aku menggeleng. Keputusanku sudah bulat.

*inspired by Don’t Leave Me – Super Junior from The 7th Album Special This Is Love
*great job, Siwon-ssi 🙂

Korean Trip : tips + tricks

Baru saja saya kembali dari perjalanan mencari jati diri di Korea Selatan :p dan untuk mengisi waktu luang sebelum saya kembali ke kampung halaman, berikut ini adalag beberapa hal yang harus diperhatikan dalam perjalanan ke Korea (beberapa tips mungkin juga akan berguna dalam perjalanan ke negara lain)  :

1. Buat itinerary sekomplit-komplitnya dan pastikan semuanya sudah fix maksimal seminggu sebelum berangkat berlibur. Kenapa? Karena kalau itenerary sudah jelas, maka saat berada di negara tujuan akan meminimalisir kebingungan. Apalagi untuk negara yang punya huruf bulet-bulet ini, buat itinerary lengkap dengan huruf hanguel-nya. Kalau kepepet naik taksi maka kalian bisa menunjukkan alamat dengan huruf hanguel tersebut pada supir taksi. Apalagi untuk supir taksi di Jeju atau Busan, mereka rata-rata gak bisa bahasa Inggris. Bahasa tubuh dapat membantu, tapi siapkan saja demikian.

2. Pisahkan uang untuk hotel/penginapan dan transportasi terlebih dahulu. Ini akan memudahkan kalian mengelola pengeluaran dan tidak akan overbudget.

3.  Untuk tiket-tiket pesawat atau KTX (korean train express) yang bisa dipesan online lakukan booking sebelum keberangkatan, harga online biasanya lebih murah dibandingkan harga counter. Termasuk tiket-tiket wahana permainan atau musikal lebih baik dibooking secara online juga.

4. Jangan meremehkan tangga menuju atau keluar subway station di korea selatan. Beberapa station besar mungkin memiliki eskalator, untuk elevator hanya digunakan untuk orang tua dan disable person. Jika kalian tidak kuat jalan, ada baiknya naik bus atau taksi. Tapi sekali lagi lakukan riset jalur bus supaya tidak terjadi kesalahan memilih bus stop. Jika perjalanan dilakukan bersama orang tua atau anak kecil, saran saya langsung ikut group tur. Karena public transport tidak terlalu bisa mengakomodir rombongan dengan jumlah lebih dari 7 orang.

5. Pilihan makanan di Korea cukup beragam, namun saran saya pilih makanan berbahan ayam atau seafood supaya lebih aman. Harga makanan sekitar 5,000-9,000 won untuk sekaliakan. Dengan porsi yang cukup besar, satu porsi bisa di-share untuk berdua.

6. Jika berminat untuk berkunjung ke wahana permainan, cari tahu promo-promo khusus wisatawan asing. Ini akan cukup menghemat pengeluaran.

7. Jangan mudah percaya dengan papan petunjuk pintu keluar di station subway. Akan lebih baik jika melakukan pengecekan ulang melalui google map ataupun waze.

8. Walaupun sepanjang jalanan di seoul tersedia fasilitas wifi, namun terkadang sinyalnya tidak stabil dan akan menyulitkan jika ingin membuka google maps / waze. Saran saya, kalau rombongan kecil bisa sewa wifi router di bandara. Saya kurang tahu harganya karena saya dan teman-teman dapat fasilitas wifi router gratis dari pemilik apartemen yang kami sewa :p

Sepertinya sekian dulu dari saya, nanti kalau saya ingat apalagi yang bisa ditambahkan akan saya edit sesuai keperluan. Terima kasih atas perhatiannya dan semoga berguna bagi nusa dan bangsa. Amin.

 

XOXO,

-net kirei

I’ll Protect You – a fan fiction

“Oppa..oppa..1” Izzi melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Jaejoong, ia menekuk wajahnya karena tampaknya sejak ia bercerita tadi Jaejoong tidak mendengarkannya.

“Ah..ne..mian.2” Jaejoong meminta maaf, sambil mengacak rambutnya. Sebenarnya sejak tadi ia mendengarkan seluruh kisah yang diceritakan Izzi, namun harinya sedikit terluka ketika Izzi menceritakannya dengan bersemangat dan matanya tampak berbinar.

Izzi melipat tangannya di depan dada dan memain sedotan yang ada di hadapannya, “Dari tadi tidak didengarkan ya?”

Jaejoong tersenyum tipis, “Mian, aku dengar kok, tapi maaf ya aku hanya sedikit capek.”

“Oppa, gwenchana?3” Tangan kanan Izzi tiba-tiba menyentuh dahi Jaejoong, sementara tangan kirinya diletakkan di dahinya sendiri.

Jaejoong memegang tangan Izzi dan melepaskan dari dahinya, “Gwechana, Izzi.4

“Oppa, harus minum vitamin dan tonik yang dibelikan Ommuni5 ya. Nanti aku bawakan lagi. Jangan banyak begadang, sudah tahu oppa sedang banyak kerjaan, jadi istirahatlah yang cukup. Lihat tubuh oppa sudah seperti papan berjalan. Kurus sekali.” Sekarang Izzi malah mengomel panjang pendek dan Jaejoong tertawa kecil melihatnya. Jujur ia kangen sekali dengan gadis berambut ikal di hadapannya ini, belakangan ia sibuk dengan syuting drama dan jadwal konser album solo-nya. Itulah kenapa ia perlu bertemu dengan Izzi malam ini, sekedar untuk menjaganya agar ia tetap normal dalam kehidupannya yang terkadang gila. Namun ketika Izzi datang dan malah menceritakan hari-hari tanpa Jaejoong yang diisi dengan berkenalan dengan lelaki lain membuatnya agak cemburu.

Izzi memang bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang gadis yang kebetulan ia kenal dari Ibunya, dan entah kenapa Jaejoong merasa cocok saat mengobrol dengannya. Obrolan apa saja dari hal yang remeh sampai politik, Izzi pasti punya pendapat yang berbeda.

“Kita pulang yuk, biar Oppa bisa istirahat.” Tepat ketika Izzi bersiap berdiri, Jaejoong menahannya.

“Sebentar lagi ya. Sebentar saja.” Jaejoong hanya memegang tangan Izzi, berharap bisa meminjam kekuatannya sedikit saja.

 

Izzi tidak tahu harus berbuat apa ketika Jaejoong menggenggam tangannya erat-erat. Ada desiran hangat di dadanya. Serta jantung yang berdebar semakin kencang. Namun Izzi segera menggelengkan kepalanya. Ia tidak boleh bersama orang ini. Orang ini terlalu berbeda, terlalu jauh dan tidak terengkuh. Cukuplah dia hanya sebagai pendengar saja, bukan pelengkap apalagi pendamping. Walaupun kadang ingin ia merengkuh Jaejoong dan memberinya sebuah pelukan sekedar untuk menguatkan. Itulah kenapa hari ini Izzi memutuskan untuk menceritakan tentang hal yang mungkin bisa membuat Jaejoong menjauh darinya. Ia bukannya takut dengan para fans yang mungkin saja mencederainya, ia hanya takut tidak bisa menjaga Jaejoong di saat-saat Jaejoong membutuhkannya. Sebaiknya ia mundur sebelum semuanya terlambat.

 

“Nanti aku akan berdiri di pojok situ, jadi Oppa pasti bisa melihatku. Arrachi?6” Izzi tersenyum sambil membentuk tanda OK dengan tangannya.

Jaejoong mengacak rambut Izzi yang langsung ditepis cepat-cepat. “Oppa! Nanti rambutku berantakan.”

“Sudah berantakan dari tadi tahu? Aku kan hanya menambahkan sedikit aksen. Hahaha.” Izzi menahan nafasnya, walaupun sudah terbiasa melihat Jaejoong tertawa entah kenapa hari ini Jaejoong tampak lebih mempesona dengan kaos dan blazernya. Izzi sampai harus agak mundur sedikit karena jarak mereka yang terlalu dekat.

“Wae?7” Jaejoong pun bertanya heran. Belakangan ini ia agak kesulitan menghubungi Izzi, ia agak merasa Izzi menjauh darinya.

“Ah..anni, Oppa8. Ayo cepat bersiap-siaplah. Fans-mu sudah menunggu.”

“Kajima..9

“Aku tidak kemana-mana, oppa. Aku kan hanya berdiri di situ. Fighting!”

Jaejoong menggenggam tangan Izzi lagi. “Iya. Aku akan bersiap-siap. Tunggu ya.” Sebenarnya hatinya agak sedikit tidak tenang, ia merasa Izzi akan pergi meninggalkannya.

 

Izzi berjalan lunglai menuju posisi ia berdiri. Sejak tadi para kru yang sibuk mempersiapkan pertunjukkan hari ini mondar-mandir di hadapannya, sesekali ada yang menyapa bahkan menanyakan apakah ia tidak apa-apa, karena wajahnya tampak pucat. Lampu sudah dimatikan dan pertunjukan siap untuk dimulai. Jaejoong muncul dari balik layar lebar dan mulai bernyanyi. Para fans meneriakkan namanya, beberapa juga mulai menyanyikan chant atau bernyanyi bersama. Sementara itu Izzi sibuk menenangkan hatinya, bertanya-tanya dengan perasaannya sendiri.

 

Sesekali mata Jaejoong melirik ke arah tempat Izzi berdiri, sambil terus bernyanyi ia ingin memastikan bahwa Izzi tidak pergi seperti perkiraannya dan ia lega karena Izzi masih ada di situ sambil melambaikan light stick-nya. Jaejoong tahu dia mungkin bukan pria yang terbaik untuk Izzi, tapi ia pun tidak ingin Izzi pergi darinya. Egois memang, tapi tidak bolehkah ia egois untuk kali ini saja?

 

Jantung Izzi semakin berdebar ketika Jaejoong mulai menyanyikan lagu “I’ll protect you”, Jaejoong tadi sempat menatap matanya seakan memastikan lagu ini dinyanyikan hanya untuknya. Dan air matanya mengalir begitu saja, tidak bisakah Jaejoong melepaskannya? Atau ia yang memang sebenarnya tidak ingin pergi. Izzi mundur dari tempat ia berdiri, ia ingin sendiri.

 

Raut wajah Jaejoong mengeras ketika ia melihat ke arah tempat di mana Izzi harusnya berdiri. Bukankah gadis itu tadi masih ada di situ? Kemana ia pergi sekarang? Ingin rasanya ia mengakhiri pertujukannya, namun ia tidak mungkin mengecewakan para penggemarnya begitu saja. Sial!

 

Jaejoong segera berlari menuju belakang panggung, mencari di setiap ruangan, juga bertanya pada para kru apakah ada yang melihat Izzi dan jawabannya nihil. Izzi seakan hilang begitu saja. Jaejoong nyaris frustasi kalau saja suara itu tidak ia dengar, “Oppa? Sudah selesai ya? Aku tadi keluar sebentar, ini aku belikan es krim. Tadi panas sekali.”

 

Jaejoong tidak menghiraukan ucapan Izzi dan langsung memeluknya sangat erat. Ia tidak perlu yang lain, ia hanya perlu Izzi yang berada di sampingnya. Itu saja.

 

Izzi membeku dalam pelukan Jaejoong, ia tidak dapat bergerak karena pelukan Jaejoong yang begitu erat, tapi juga tidak dapat bersuara karena ia tidak tahu apa yang harus ia katakan. Tadinya ia memang berniat pulang, namun kakinya terasa berat untuk melangkah, sampai akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke gedung pertunjukan dan menemukan Jaejoong yang sedang tertunduk lemas.

 

“Oppa..aku tidak bisa bernafas.” Jaejoong segera melepaskan pelukannya, setelah mendengar suara Izzi.

“Jangan pernah seperti itu lagi ya. Aku kan memintamu untuk menunggu.”

“Mianhaeyo, oppa.10 Tapi tadi—“

Jaejoong langsung memotong ucapan Izzi, “Tolong jangan diulangi lagi.”

Izzi terhenyak, sebegitu pentingkah ia untuk Jaejoong. Namun melihat pria di hadapannya ini begitu mengkhawatirkannya ia memilih untuk percaya. Percaya bahwa mereka akan bisa saling melindungi pada akhirnya. Iya kemudian tersenyum dan mengangkat tas plastik yang di bawanya. “Ne, oppa. Ice cream?11

Jaejoong memeluk Izzi. Sekali lagi. “Saranghae12..”

 

 

Notes :

1 Panggilan kakak laki-laki oleh adik perempuan

2 Ah ya..maaf.

3 Oppa, tidak apa-apa?

4 Tidak apa-apa, Izzi

5 Ibu

6 Mengerti?

7 Kenapa?

8 Ah, tidak, oppa.

9 Jangan pergi

10 Maaf, oppa

11 Iya, oppa. Es krim?

12 Aku mencintaimu

 

11 AM – a fan fiction

Pukul 11 siang, Junsu terbangun dengan peluh di sekujur tubuhnya. Ia meneguk air dengan segera untuk menenangkan debaran jantungnya dan tubuhnya yang gemetar. Mimpi itu lagi. Sebuah mimpi yang terasa sangat nyata berkali-kali masuk ke alam bawah sadarnya. Jama yang sedang menangis di bawah guyuran hujan dan Junsu yang hanya bisa mematung tanpa bisa merangkuhnya karena kakinya seakan dipaku di tanah tempatnya berpijak bahkan untuk sekedar mengeluarkan suarapun ia tidak mampu.

Junsu mengganti bajunya yang basah oleh keringat, namun pikiran di dalam otaknya terus mencari-cari maksud dari mimpi itu. Apakah Jama tidak apa-apa? Apakah Jama terluka? Hanya ada satu cara untuk mengetahuinya.

Ia sama sekali tidak berbakat melakukan pekerjaan sembunyi-sembunyi seperti ini. Junsu berkali-kali membenarkan posisi kacamata hitamnya juga topi yang ia gunakan. Jama seperti biasa duduk di pojok favoritnya sambil membaca novel dan menyesap espresso. Junsu mengamatinya dari balik pilar yang menyembunyikan badannya. Ia bisa melihat Jama dengan jelas tanpa Jama bisa menyadarinya. Yang bisa Junsu liat lainnya adalah lingkaran hitam di seputar mata Jama juga pipi yang tampak tirus.

Langit cerah tiba-tiba berubah mendung. Junsu langsung melihat ke arah Jama yang bersiap-siap meninggalkan mejanya. Apakah Jama membawa payung? Anak itu kan ceroboh sekali. Dulu ketika masih bersama Junsu sering sekali mengingatkannya dan terkadang itu menjadi sumber pertengkarang kecil mereka, tapi itu dulu..

Ia bisa melihat Jama menadahkan tangannya dan seakan berharap hujan turun lebih deras, Junsu pun bisa melihat airmata yang mulai mengalir di kedua belah pipinya. Junsu masih menggenggam payungnya, tapi persis seperti dalam mimpi, kakinya sama sekali tidak bisa digerakkan.

Hujan semakin deras dan Junsu mencoba melangkahkan kakinya, sedikit berlari menuju Jama. Namun di saat itu pula seluruh pemandangan berganti menjadi padang pasir kering yang membuat kaki Junsu semakin sulit berlari. Keringat mulai menetes di dahinya sementara bibirnya terus berbisik, “Saranghae..saranghae” berharap Jama bisa mendengar suara lirihnya.

Junsu terus berlari dan Jama semakin menjauh. Sampai akhirnya Junsu terjatuh dan tak mampu lagi berdiri.

Tit. tit. tit. tit.

Junsu terduduk di atas kasurnya. Jam digitalnya menunjukkan angka 11.00 AM. Sekali lagi.

*inspired by 11AM – Xia Junsu (2013)

*ini benernya lebih panjang dikit tapi ketikan pertamanya kehapus 😦

*dan ini adalah kisah sebelum cerita ini

I Would – a fan fiction

“Memangnya aku salah apalagi?” suara Henry sudah nyaris meninggi saking kesalnya. Dilihatnya lagi perempuan mungil berambut sebahu yang sangat ia sayangi. Beberapa kali dalam satu tahun ini mereka selalu bertengkar tak jelas alasannya, kadang bahkan hanya karena baju yang kusut belum disetrika saja bisa menjadi penyebabnya.

Perempuan itu hanya diam, menatap dalam ke mata Henry. Ia sendiri tidak tahu apa yang telah ia ucapkan tadi. Kalimat perpisahan?

Henry menunduk frustasi, pelan diucapkan lagi pertanyaan yang sama, “Memangnya aku salah apalagi?”

Sekali lagi perempuan itu diam, masih menatap Henry dengan tatapan tak terartikan.

“Apa kamu ingin kita berpisah?” lirih Henry bertanya. Dari pertengkaran mereka hari ini tampaknya memang si perempuan menginginkannya untuk pergi.

“Sebegitu ingin sampai kamu bahkan tak akan menahanku pergi?” lagi sebuah pertanyaan tanpa jawaban.

Perempuan itu ganti menundukkan wajahnya, “Apa kamu bahagia bersamaku?”

Henry tidak ingin buru-buru menjawab pertanyaan itu. Lima tahun tentu bukan waktu yang singkat bagi mereka berdua, tentu ada kebahagian yang meluap-luap di dalamnya, walaupun ada juga beberapa hal sedih yang mewarnainya. Tapi jika ditanya apakah ia bahagia? Tentu saja.

Tak ada yang lebih membahagiakan ketika melihat perempuan itu tersenyum senang ketika Henry lelah setelah menjalani konser-konser panjang yang melelahkan. Tak ada yang lebih membahagiakan ketika mereka menghabiskan waktu bersama, walaupun hanya sambil bergelung dalam selimut dan menonton televisi bersama kala Henry sengang. Tak ada.

Dan haruskan bertanya apakah ia bahagia? Tak tahukah ia bahwa jawabannya tentu saja Henry bahagia bersamanya.

“Tentu saja. Dan tak ada yang bisa menyangkalnya.” Jawab Henry, kali ini sambil mengangkat kepala dan menatap si perempuan sambil melembutkan wajahnya.

“Tapi aku tidak.” Satu kalimat itu menghancurkan Henry. Telak. Sampai-sampai badannya terhuyung dan ia harus berpegangan pada pinggiran meja yang memisahkan mereka.

Henry mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, separuh dari dirinya ternyata tidak terima. “Selama ini? Kenapa?”

Si perempuan menahan nafasnya, memejamkan matanya. Henry bisa melihat bulir air mata berkumpul di sudut matanya. “Ka..”1

“Why?”

Keunyang kaseo..”2 Air mata itu tampaknya sudah tak mampu dibendung, perlahan menganak di kedua pipi.

Henry menggenggam kedua tangan mungil itu, menguatkan juga mencari jawaban. “Kenapa? Kenapa aku harus pergi?”

Perempuan itu mengangkat wajahnya, riasannya sudah luntur akibat air mata, dari tasnya ia mengeluarkan sebuah amplop. Sebuah undangan pernikahan. “Mianhaeyo, Henry-ssi.”

Sekali lagi. Di tempat yang sama, Henry hancur untuk kedua kalinya.

_________

1 [Korea] Pergi

2 [Korea] Pergilah

*inspired by the feeling of Henry when he sing I Would from his latest mini album “Trap” (2013)

S.P.Y – a fan fiction (ENGLISH)

There is something different in Choi Siwon’s heart when he received that envelope. Can he do that and keep it low to be seen normal and not suspicious. In addition to that, he must do that in Indonesia where there is a bigger probability to meet her. Once again, he puts his bow tied, tidy up his arm and put his Armani titanium ceramic dark grey watch and put handkerchief on his Armani tux. He is ready to go out and ready for the next event.

The gala diner will not complete without these socialites and celebrities. Quickly, Siwon mingle between them and occasionally sip his champagne. He realized that the gala will be finished by midnight, so he has to be ready at all times. “Play cool, Hyung.” Kyuhyun whispers beside him.

“How dare you to tell me to play cool? I cannot be cool with her being around.” Siwon drinks his champagne in one shot, nervously.

“Have you seen her yet?”

Siwon glanced, “Not yet, but I can feel that she is around.”

Kyu tap his hyung’s shoulder and laugh, “Oh come on, hyung. Chill.” He leaves and make some small talk with other guests. His skill is getting better, Siwon think.

A gala will not be completed without a little touch of dance.The classic music starts and chandeliers turned to be themain source of light, people start to walk to the dance floor to dance. Siwon stands at the corner of the ballroom and anxiouslycheck his watch, because a slight miscalculation will led him to trouble this time. “Would you like to dance with me?” That voice almost made him out of control, but somehow he can control himself. She is now standing confidently in a high cuttedred-blood dress, exposing her beautiful legs.

“I know it – you must be here.” Both of them are now in the middle of the dance floor. Siwon led their waltz.

She smiles and laughs nicely, “Did you try to find me? I thought you are supposed to avoid me to make your plan works” Now she lean her body to Siwon and whispers to him.

“Shall we just enjoy the dance? It has been a little while since the last time we have met.” Siwon smile to her. Just a moment, dear.

“Ladies and gentleman, we would like to thank each and every one of you for coming to the gala. Tonight, we will present the masterpiece, the beauty and the confession of love…The limited edition pink diamond necklace!” The velvet fabric slowly uncover the transparent box.

“IT’S GONE!” One guest yelled in shock – made all people in theballroom gasped. That transparent box is now empty, leaving the purple velvet pillow inside.

She turns her face to Siwon, holding her laugh, “Well done, Siwon-ssi. You did it on purpose right? Holding me here while your friends are doing your plan.”

Siwon pulls her right hand and kiss her hand, “The truth is.. I have only one mission tonight.” He lean his body, kiss her lips and finish his important mission.

*Inspired by SPY – Super Junior (SM Ent., 2012)

*This fanfiction awarded as first winner for the competition held by Urban Icon Store and Nulisbuku. Read the Indonesia version here

S.P.Y – a fan fiction

Ada yang menggajal di hati Choi Siwon ketika pertama kali menerima amplop tersebut. Mungkinkah ia bisa melakukannya sementara ia juga harus menjaga sikapnya agar tidak terlihat terlalu mencurigakan. Tapi sejujurnya bukan itu saja, ia harus melakukan ini di Indonesia dan kemungkinan bertemu dengan dia semakin besar. Ia membenarkan sekali lagi dasi kupu-kupu yang terpasang di lehernya, merapikan bagian lengannya, memasang Armani titanium ceramic dark grey watch di tangannya dan memberikan sentuhan sapu tangan pada saku tuksedo Armani-nya. Satu tarikan nafas ia pun keluar dari kamar hotel dan bersiap ke acara selanjutnya.

Acara gala diner tidak lengkap tanpa kehadiran para sosialita dan selebritis, Siwon dengan cepat berbaur, sambil sesekali menyesap champagne di tangannya. Namun ia tetap belum bisa tenang, acara ini berlangsung sampai tengah malam dan ia tidak boleh lengah. “Santailah sedikit, Hyung.” Bisik Kyuhyun ketika berada di samping Siwon.

“Santai bagaimana? Kalau dia ada di sini, aku tidak bisa santai.” Bantah Siwon sambil meneguk Champagne banyak-banyak.

Hyung, sudah melihatnya?”

Siwon mengedarkan pandangan matanya lagi, “Belum, tapi aku merasa dia ada di sini.”

Kyu menepuk pundak Siwon sambil sedikit tertawa, “Ayolah, hyung. Relax.” Kemudian ia berlalu dan menyapa beberapa tamu penting yang ada di acara tersebut. Kyuhyun sudah semakin ahli tampaknya, pikir Siwon.

Sebuah gala tidak pernah lengkap tanpa adanya sedikit sentuhan dansa. Ketika lagu klasik mulai mengalun dan ball room hanya diterangi cahaya chandelier, maka satu persatu pasangan mulai turun ke lantai dansa. Siwon masih berada di pojok ruangan, sambil berkali-kali mengecek jam tangannya, kesalahan hitung sedikit tentu akan berakibat fatal pada aksinya kali ini. “Would you like to dance with me?” suara itu terasa begitu dekat dengan Siwon, nyaris saja ia terlonjak, namun dengan segera menguasai keadaan. Dia hadir kali ini dengan balutan gaun berwarna merah darah dengan belahan yang cukup tinggi untuk memamerkan kaki jenjangnya.

“Aku tahu kamu pasti ada di sini.” Kali ini mereka sudah berada di tengah lantai dansa dan Siwon memimpin dansa waltz mereka.

Dia tersenyum nyaris tertawa, “Kamu mencariku? Bukankah kamu harusnya menghindariku agar rencana kalian berhasil.” Kali ini dia agak berbisik ke telinga Siwon.

Shall we just enjoy the dance? Kita kan sudah agak lama tidak bertemu.” Kali ini Siwon yang memamerkan senyumnya. Sedikit lagi.

“Kami ucapkan terima kasih atas kedatangan Bapak, Ibu dan rekan-rekan sekalian. Pada malam hari ini kami ingin memamerkan sebuah mahakarya, sebuah keindahan dan sebuah ungkapan cinta. Koleksi kalung pink diamond dengan desain khusus dan terbatas. Mari kita lihat bersama!” Perlahan selambu beludru yang menyelubungi kotak transparan itu terbuka.

“HILANG!” Teriakan seorang tamu mengagetkan yang lain. Benar saja, kotak transparan itu kosong meninggalkan bantalan beludru ungu dan membuat seluruh ballroom kebingungan.

Dia menoleh ke arah Siwon, kali ini sambil menahan tawa. “Well done, Siwon-ssi. Kamu sengaja menahanku di sini supaya teman-temanmu bisa menjalankan misi kalian kan?”

Siwon menarik tangan kanannya kemudian mengecupnya, “Sejujurnya aku hanya punya satu misi malam ini.” kemudian menarik tubuhnya lebih dekat, mengecup bibirnya dan menyelesaikan misi penting sesungguhnya.

* Terinspirasi dari lagu SPY – Super Junior (SM Ent. , 2012)

* Fanfiction ini berhasil memenangi kompetisi menulis yang diselenggarakan oleh Urban Icon Store dan Nulisbuku. Baca versi bahasa inggrisnya di sini

Eventhough I Already Know – a fan fiction

“HAI, J!” Lelaki gemulai itu menyapa Jama dengan sumingrah, ia langsung mendekatkan pipinya dan menempelkannya pada pipi Jama.

“Halo, Lui.” Nama asli lelaki itu Kim Jong Hoon, tapi ia lebih suka dipanggil Lui. Lebih cocok dengan profesinya sebagai desainer, katanya.

“Kemana aja sih? And look at you, so skinny, J.” Lui menyuruh Jama berputar untuknya.

Jama pun menurut dan berputar sambil tertawa, “Habis pulang ke Indonesia, Lui. Masa sih aku kurusan? Perasaan aku tambah gemuk deh.”

“No, darling. But you are perfect anyway. Kenapa mereka gak ngontrak kamu jadi model sih daripada Zee?”  Lui mengibaskan tangannya tak suka.

Jama tertawa dan memeluk bahu Lui, “Oh Lui, mereka kan gak mampu bayar aku jadi model.”

Hari ini penampilan Jama memang lebih cocok dipanggil model ketimbang asisten make up artist di sebuah stasiun televisi ternama di Korea. Dress lurus berwarna beidge dan sepatu boot warna senada melengkapi penampilannya.

“Ini udah aku siapin semua ya, J. Aku taruh di sini dulu ya. Tapi kamu jangan pulang dulu ya, aku mau tunjukin koleksi kami yang terbaru dan mungkin ada beberapa yang cocok di kamu.” Lui mengerling dan Jama mau tidak mau mengikuti Lui menuju bagian studio dalam butiknya.

“J, kamu tadi udah ke butiknya Lui kan ya?” So Hee bertanya sambil mengerutkan kening.

Jama menyeruput kopinya, lalu menoleh ke arah So Hee. “Iya, tadi aku ke sana kok. Itu yang kamu pegang kan baju dari Lui.”

“Bukan gitu, J. Kaya’nya bajunya ketuker deh.” Sahut So Hee hati-hati.

Jama langsung bangkit dan memperhatikan kotak terbuka yang ternyata berisi sebuah kemeja laki-laki bergaris-garis tipis serta sebuah dasi berwarna terang, ia membolak balik kotak tersebut mencari tahu siapa pemiliknya. Junsu.

“J, I’m really..really sorry. Aku sudah cek benar kok pas masukin ke tasnya.” Suara Liu terdengar panik.

Jama menarik nafas dan berusaha tenang, “Oke, Liu. Tapi ini tertukar dengan milik Junsu, dan syuting akan berlangsung satu jam lagi.”

“Ehm..ehm..Jama sayang, aku minta maaf pegawaiku di sini sedang sibuk dan tidak bisa menukar kembali pakaian itu, bisakah kamu yang menelpon Junsu untuk menukarnya?”

Jama memutar bola matanya, haruskah ia kembali menemui lelaki itu, tapi tidak mungkin ia tidak mengambil baju itu. Jama menarik nafas panjang sekali lagi, “Kirimkan nomor Junsu ke hp-ku segera, Liu.”

“Kalian sudah tidak pernah berhubungan lagi?” tanya Liu heran.

“Bukan saatnya membahas itu sekarang, Liu.” Jawab Jama tegas.

Sudah lama sekali Jama tidak bertemu lelaki itu, ia sengaja menghindar ketika Junsu sedang ada syuting di tempatnya, atau ketika Jama harus ikut serta dalam persiapan acara musik dimana Junsu menjadi pengisi acaranya. Pokoknya sebisa mungkin ia tidak bertemu lelaki itu dan kali ini hanya karena terjadinya tragedi tertukarnya baju ini ia terpaksa harus bertemu dengannya. “J, apa kabar?” seorang perempuan yang juga asisten make up artist menyapanya ketika ia memasuki gedung manajemen artis tempat Junsu bernaung. Jama hanya memamerkan senyum seperlunya dan menyapanya sopan sembari mempercepat langkah. Semakin cepat ini selesai, semakin cepat ia akan pergi dari tempat ini.

Jama masih ingat benar seluk beluk ruangan dalam gedung ini, dan beberapa pegawai yang mengenalnya ikut menyapa dan menampakkan wajah terkejut atau bahkan bertanya-tanya kenapa Jama bisa berada di sini. Jama merapikan bajunya sebelum mengetuk pintu, menarik nafas sesaat, dan akhirnya membuka pintunya.

“Jama?” Jaejoong yang pertama kali menyapanya, sebelum akhirnya Yuchun dan Junsu yang juga berada di ruangan itu ikut menoleh ke arah pintu.

“Hai, oppa. Aku ada urusan dengan Junsu sebentar.” Kata Jama cepat.

Junsu menarik kedua alisnya, namun kemudian bangkit dari duduknya. “Sudah datang.”

Suara serak namun lembut itu nyaris membuat Jama terlena, namun ia menguatkan diri dan berusaha menenangkan diri. “Baju kita tertukar dan aku membutuhkannya. Segera.” Ia kembali mengulangi perkataannya di telpon tadi.

“Tunggu akan kuambilkan, aku belum sempat mengeceknya semenjak aku datang tadi.” Junsu melewati Jama untuk mengambil bajunya di ruangan lain dan saat melewatinya nafas Jama sempat tercekat. Dia masih memakai parfum yang sama dengan yang Jama pilihkan dulu ketika mereka masih bersama.

Bersama? Mungkin jika waktu itu Junsu bisa memberikan alasan logis kenapa ia tiba-tiba menghilang tanpa pesan, mungkin mereka masih bersama. Jama dan Junsu.

“Maaf aku mengganggu waktu kalian, oppa.” Ujar Jama sopan.

Jaejoong tersenyum, “Tidak apa-apa. Senang melihat kamu di sini, Jama.”

“Aku juga, oppa.”

Junsu tiba-tiba datang dan menyodorkan tas kertas yang sama persis dengan yang dipegang oleh Jama. “Ini. Kamu ke sini naik apa?”

“Eh? Tadi di-drop mobil kantor.”

“Aku antar J dulu, nanti aku kembali lagi.” Tanpa menunggu persetujuan rekan-rekannya Junsu langsung mengambil kunci mobil dan keluar dari ruangan.

Jama tampak bingung, namun Yuchun segera mengalihkan perhatian. “Ya hati-hati. Sampai ketemu lagi, J.”

Sepanjang perjalanan menuju stasiun televisi di dalam mobil Junsu dan Jama sama sekali tidak mengeluarkan suara. Bahkan suara tarikan nafas mereka pun nyaris tak terdengar.

“Kamu baik, J?”

Jama yang sedang mengamati jalanan menoleh ke arah Junsu, sesungguhnya dia rindu dengan lelaki di sampingnya ini, tapi jika ia mengingat lagi pertengkaran besar mereka kala itu, maka hatinya akan kembali sakit.  

“Baik.” Jawabnya singkat. Apa harus ia katakan bahwa semenjak Junsu tak mengangkat telepon maupun membalas SMS-nya ia sering menyendiri dan jadi jarang tersenyum. Apa Junsu tahu kalau ia dijadikan bulan-bulanan semenjak hubungan mereka kandas? Dan bahkan sampai sekarang Junsu tetap tidak memberikan penjelasan mengenai hubungan mereka, Jama sendiri sudah malas bertanya-tanya.

Selebihnya hening kembali. Mereka berdua layaknya orang asing yang pertama kali bertemu dan tidak tahu harus berkata apa.

Ketika mobil akhirnya berhenti di halaman kantor Jama pun Junsu tidak berkata apa-apa. “Terima kasih.” Jama membuka pintu mobil sambil memegang erat tas kertas berisi baju Zee, sambil menahan air mata yang nyaris tumpah jika ia tidak segera keluar dari mobil ini.

“Jama..” suara Junsu tertahan, ia pun ragu harus berkata apa.

Jama menoleh untuk memberinya kesempatan. Sekali lagi, Junsu. Tapi tidak, Junsu tidak mengeluarkan sepatah kata pun lagi selain memanggil namanya. Kali ini air mata mengalir deras diiringi hujan yang tiba-tiba turun.

“Oppa.” Zee mencium pipi kanan Junsu dan bergelayut mesra di lengannya. “Ada apa ke sini? Pasti rindu denganku ya?”

“Oh hai, Zee. Maaf ya, tapi aku sedang terburu-buru.” Junsu berusaha melepaskan tangan Zee dari lengannya.

Zee merubah ekspresinya, “Oppa masih ingin bertemu Jama? Masih ingin membuatnya lebih menderita?”

Junsu terdiam. Ia mengingat kembali apa yang terjadi 6 bulan yang lalu. Junsu tidak pernah menyangka Jama akan semenderita itu jika berhubungan dengannya, beberapa fans fanatik-nya sempat melempar telur busuk di depan apartemen Jama, bahkan mengancam dengan surat kaleng. Namun setiap kali Jama bertemu dengan Junsu, ia tidak pernah menceritakan hal itu. Jama selalu tersenyum dan ceria. Melihat kenyataan itu membuat hati Junsu kembali perih dan ia membiarkan Jama yang membencinya. Ia melepaskan Jama agar dia lebih bahagia. Itu saja.

“Aku titip ini, payungnya tadi tertinggal di mobilku. Tolong serahkan padanya.” Junsu menyerahkan sebuah payung lipat biru muda, lalu pergi dari tempat itu tanpa menoleh lagi.

Jama memandangi payung biru muda di hadapannya. Payung itu jelas bukan miliknya, hari ini dia tidak membawa payung dan tidak ada barang yang tertinggal di mobil Junsu tadi. Namun ketika Zee menyerahkannya tadi ia tetap menerima payung itu dan berpikir keras mengapa Junsu memberikan payung itu padanya. Apa itu berarti dia masih perhatian? Namun kenapa ia tidak memberikan penjelasan apapun mengenai hubungan mereka tadi? Jama berpikir terlalu keras sampai akhirnya kepalanya sakit.  Untung saja hari ini ia tidak perlu ekstra membersikan apartemennya, memang semenjak ia tidak lagi bersama Junsu, fans-fans fanatik itu tidak lagi melempari tempat tinggalnya dan ia tidak perlu meminta maaf berkali-kali pada pemilik apartemen karena mengganggu tetangganya yang lain. Sebuah SMS masuk ke HP Jama, dari Soo Hee yang mengajaknya untuk berkumpul di kedai minuman. Jama hanya membalas singkat dengan mengatakan ia sedang tidak enak badan. Lalu ia kembali bergelung dalam selimutnya karena tubuhnya terasa panas dan kepalanya menjadi lebih sakit.

Jaejoong menghampiri Junsu yang sejak tadi menerawang memandangi kota Seoul yang siang itu tertutup awan mendung. “Ini.” Katanya sambil menyodorkan segelas kopi panas.

“Masih memikirkan Jama?”

“Apa hyung pikir dia baik-baik saja?”

“Kenapa tidak kau tanyakan sendiri padanya?”

Junsu menyesap kopinya, “Dia bilang dia baik-baik saja.”

“Kalau begitu, apa dirimu baik-baik saja?”

Junsu tidak menjawab pertanyaan hyungnya. Ia tahu dirinya tidak baik-baik saja, tapi ia hanya melakukan sesuatu yang benar menurutnya, dan yang pasti itu tidak akan menyakiti Jama. Ia akan bertahan dengan rasa sakit ini, asalkan bukan Jama yang menderita karenanya.

“Apa yang kulakukan ini benar, hyung?”

Jaejoong tersenyum dan menunjuk dada Junsu, “Tanyakan lagi pada yang didalam sini.”

Sudah 2 hari, Jama tidak masuk kerja. Sehari-hari ia hanya bergelung di kasur, makan dan minum obat. Badannya sakit semua dan rasanya untuk bergerak saja ia tidak sanggup. Soo Hee berkali-kali menelponnya hanya untuk mengecek keadaan Jama, kemarin ia juga sempat memasakkan bubur untuk Jama supaya Jama tidak perlu repot soal makanan, dan ia berjanji sepulang kerja nanti akan mampir ke apartemen Jama lagi. Jama merasa berhutang budi dan mencatat dalam hati akan menraktir Soo Hee bila ia sudah sembuh nanti.

Tingtong.

Ah itu pasti Soo Hee, pikir Jama sambil melirik jam dindingnya. Jama membuka pintu tanpa melihat ke intercom. “Hai, Jama.” Junsu berdiri di hadapannya sambil membawa dua buah tas plastik, wajahnya tampak segar dan tentu saja tampan dengan kaos berkerah dan celana pendek warna khaki. Junsu tampak seperti akan piknik ketimbang menjenguk orang sakit. Tanpa dipersilakan Junsu langsung masuk dan menuju ke arah dapur.

“Kamu ini selalu tidak pernah cuci piring ya? Piring-piring ini mana bisa nyuci sendiri.”

“Ya kalau aku sedang tidak sakit pasti aku cuci semua.”

Junsu mendekat dan menggiring Jama kembali ke kamarnya, “Karena itulah, yang sakit istirahat di kamar. Biar chef Junsu yang membereskan urusan dapurnya.”

Jama sampai takjub dengan makanan yang memenuhi meja makannya. Dari mulai kimbab sampai jigae semua lengkang tersaji di sana. “Ini siapa yang mau makan sebanyak ini?”

Junsu masih menggunakan celemek yang entah itu milik siapa karena Jama sendiri tidak ingat ia punya persediaan celemek, duduk di hadapan Jama dan mengisi mangkuk Jama dengan nasi. “Orang sakit harus makan yang banyak.”

“Orang sakit bisa tambah sakit kalau dipaksa menghabiskannya, Junsu.” Namun Jama tidak menolak nasi yang disodorkan Junsu.

Ia mulai mengambil lauk dan makan dengan perlahan. Sudah lama sekali rasanya sejak Junsu tertawa dan memasak untuknya. Jama berkali-kali mengerjapkan mata memastikan bahwa ini bukan mimpi belaka, juga untuk menahan air mata yang sudah hampir luruh.

“Orang sakit itu gak boleh nangis.” Junsu menyeka air mata di pipi Jama dan Jama pun mulai terisak.

“Apa maksudnya semua ini, Junsu?”

Junsu kemudian menggenggam jemari Jama kuat-kuat. “Aku minta maaf. Aku tahu kamu pasti membenciku setengah mati karena tindakan yang aku lakukan. Tapi sekarang aku hanya ingin mengatakan bahwa aku bersalah atas tindakan itu dan tidak akan kulakukan lagi. Aku tidak akan membiarkan ada orang yang menyakitimu lagi, atau orang itu tidak akan pernah tenang seumur hidupnya.”

“Sekali lagi aku minta maaf, Jama. Maukah kamu mengulang semuanya dari awal dan memperbaikinya denganku?”

Jama terdiam, memandangi lelaki di hadapannya dengan gamang. Haruskah ia menerimanya kembali? Haruskah ia melupakan yang telah berlalu dan memaafkannya kembali?

Tiga bulan kemudian.

Jama duduk dalam gedung konser yang padat dengan fans-fans yang terus meneriakkan nama Junsu padahal konser baru akan dimulai 30 menit lagi. Tangannya gemetaran dan keringat dingin bercucuran di dahinya. Ia menggenggam erat sebuah poster yang telah ia buat semalaman. Lampu dimatikan dan digantikan dengan lautan light stick dan pertunjukan pun dimulai. Jama mulai resah, apakah Junsu dapat melihatnya dari tempatnya duduk saat ini? Apakah poster yang ia bawa cukup menarik perhatiannya?

Intro lagu “Even though I Already Know” mulai terdengar dan gedung pun mendadak senyap, semua orang tampak larut dalam nyanyian dan permainan piano Junsu di tengah panggung.

 

Kkeunnan jul na al-go it-jiman geurae anin jul deo jal al-go isseo
Cheo-eumbu-teo nae mameun ajik keudaeroinde eotteo-khae neol ji-ul-su isseo

 

Tubuh Jama membeku, namun tekadnya sudah bulat, ia mengangkat posternya tinggi-tinggi dan saat itu pula Junsu menatap ke arahnya.

Saranghaeyo, Kim Junsu!” teriak Jama sekencang-kencangnya. Ia tidak peduli beberapa fans disekelilingnya mulai terganggu dengan suara dan gerakannya.

Junsu tersenyum dan melanjutkan nyanyiannya. Sampai ia menyelesaikan lagu tersebut, ia kemudian berdiri membungkukkan badan pada penonton. “Saya ucapkan terima kasih atas dukungan kalian selama ini untuk saya, untuk lagu-lagu yang saya bawakan, untuk karir bernyanyi saya dan untuk segalanya. Tapi ada satu hal yang perlu kalian tahu, bahwa aku berada di sini selain karena dukungan kalian semua, para kru juga anggota manajemenku, ada satu orang yang mendukungku walaupun tak terlihat oleh kalian. Dia adalah wanita yang berteriak memanggil namaku tadi, Jama, calon istriku.”

 

* untuk kisah Junsu – Jama yang lain, baca di sini